Selasa, 18 Mei 2010

Akhirnya Kumenemukanmu

Akhirnya Kumenemukanmu
By: Mutfiah Ani
Kegelisahanku semakin memuncak. Betapa tidak sekarang umurku sudah 29 tahun, tapi sampai sekarang aku belum menikah. Jangankan menikah pacaran saja aku tidak pernah. predikat jomlo sejati pantas aku sandang, karena selama 29 tahun aku hidup di bumi ini aku tak pernah merasakan indahnya pacaran. Kata orang sih pacaran itu enak, indah, dan dunia rasa milik berdua. Tapi entahlah itu benar apa tidak yang jelas aku tidak pernah merasakannya.
Aku seorang gadis, pantas lah kalo aku gelisah. Aku hidup di kampung, omongan orang di kampung sudah mulai tidak enak didengar. Perawan tua lah, tidak lakulah , apalah begitu mereka membicarakanku. Aku mulai risih dengan keadaanku, begitu juga ibuku. Kasihan orangtuaku, sepertinya mereka tertekan dengan keadaan ini.
“Kapan to nduk kamu itu menikah? Ibu dan bapak sudah kepingin punya cucu, apa ndak malu dengan tetangga-tetangga di sini yang suka membicarakanmu?” kata ibuku pada suatu malam.
“Entah lah bu belum ada jodoh”. Jawabku singkat, sambil berlalu meninggalkan ibu. Selalu itu jawaban yang terlontar dari mulutku ketika ibu selalu menanyakan hal itu.
Aku tak mengerti kenapa jodoh belum juga berpihak padaku, apa aku ini tak cantik? Apa aku juga tak menarik? Menurutku aku gak jelek-jelek amat, kulitku sawo matang kecoklat-coklatan, hidung juga mancung, dan badanku tinggi semampai. Kata orang sih aku manis, manis khas perempun jawa.
Sebenarnya aku bukan tipe orang yang menutup diri, kata temen-temen ku aku termasuk orang yang supel dan pandai bergaul. Tapi entahlah sampai sekarang aku juga belum menemukan soulmate ku. Aku berkali-kali jatih cinta, tapi selalu bertepuk sebelah tangan. Ya sudahlah mungkin Tuhan menyiapkan yang terbaik buatku, mungkin bukan sekarang, tapi nanti, aku juga nggak tau kapan.
Uh hari ini aku capek sekali, seharian beraktivitas di sekolah sungguh menguras energiku. Maklum lah aku sebagai wali kelas sebuah sekolah SMP di kampungku, dan ini musimnya mengisi raport kenaikan kelas. Wajar kalo aku sibuk.
Eh ada apa ya di rumahku? Kok kayaknya ada tamu . bawa mobil mewah lagi. Ehm tamu darimana ya? Tanyaku dalam hati.
“Nah itu dia anaknya sudah datang.” Ujar ibu ku dari dalam rumah, ketika baru saja aku turun dari motorku.
“Nduk sini, ada tamu dari jauh. Kenalkan ini pakde Wiryo dan istrinya, dan ini Dimas anaknya.” Cerocos ibuku.
“Ningsih” Ucapku sambil bersalaman dengan mereka. Tapi ups Ternyata Dimas nggak mau berjabat tangan denganku, uh aku jadi malu sekali. Alim banget sih tu orang.
Setelah itu aku langsung masuk ke dalam kamar, dan berganti pakaian. Oh iya aku baru ingat yang ibu ceritakan beberapa waktu lalu. pakde wiryo itu sahabat baik ayahku ketika masih muda dulu. Dan katanya dimas baru saja pulang dari mesir, ya dimas memang melanjutkan S2 nya di Mesir. Kalo todak salah pakde Wiryo rumahnya kan di Samarinda, terus kenapa tiba-tiba dia datang ke rumah ya?Samarinda-Binuang kan lumayan jauh, bukan lumayan tapi memang jauh sekali jaraknya. Ah mungkin hanya untuk bersilahturahmi dengan ayahku saja, maklum sahabat lama tidak berjumpa.
“Nduk Ningsih, tolong ke sini sebentar, bapak sama ibu mau bicara penting.” Suara ibuku dari ruang tengah memecahkan lamunanku.
“Ya Bu bentar.” Jawabku dari dalam kamar.
“Ada apa bu ? Sepertinya serius dan penting sekali? ” Tanyaku sambil menatap wajah ibu dan ayahku secara bergantian.
“Begini, tadi khan ada keluarga Pakde Wiryo datang ke sini, kamu sudah tahu kan? ”Tanya ibuku.
“Iya tahu, emangnya ada sih bu?”
“Anu nduk, tadi itu sebenarnya tujuan mereka datang ke sini, untuk melamarmu untuk anaknya Dimas.” Kali ini Ayahku yang menjawab. Aku terkejut setengah mati mendengarnya, betapa tidak, laki-laki seperti Dimas melamarku.
“Piye nduk? Apa kamu mau? Kalo ibu sama bapak sih terserah kamu, orang kamu kok yang menjalani. Tapi ibu sarankan lebih baik kamu terima saja. Dimas itu anak nya baik, sholeh, dan berpendidikan. Kamu mau mencari yang seperti apa lagi? Semua kriteria suami idaman sudah ada pada Dimas.” Urai ibu panjang lebar seperti mempromosikan Dimas.
“Ningsih piker-pikir dulu bu, pak. Ningsih mau sholat istikharah dulu mau minta petunjuk sama yang di atas. Apakah dimas, memang yang terbaik buat Ningsih.” Jawabku sambil tertunduk menatap lantai. Yang jelas aku masih terkejut mendengar berita tadi.
“Yowes kalo gitu, tapi jangan lama-lama lho nduk. 2 hari lagi mereka datang ke sini, untuk meminta jawbanmu.” Kata bapak, dengan penuh pengharapan.

2 hari telah berlalu, dan kalo tidak ada halangan sih keluarga pakde wiryo sore ini akan datang ke sini lagi. 2 malam aku memohon petunjuk kepada Allah, dan aku sudah menemukan jawabannya. Ya aku akan menerima Dimas, mungkin Dimas lah jawaban dari semua doa-doaku selama ini.
Benar saja, ada suara mobil di depan rumah ku. Pakde wiryo dan istrinya turun dari mobil. Oh ternyata mereka Cuma berdua, kemana Dimas ya? Tanyaku dalam hati.
Singkat cerita, aku menerima lamaran Dimas, dan hari ini senin tanggal 5 February aku akan melangsungkan akad nikah. Ya Allah hatiku bahagia sekali. Akhirnya aku akan menikah juga. Raut-raut wajah kebahagiaan tersirat dari semua anggota keluargaku. Ternyata tidak hanya aku yang bahagia, tapi semuanya ikut bahagia. Dan predikat perawan tua, dan tak laku-laku kini lenyap dari diriku.
Setahun berlalu dari pernikahanku dengan Dimas, dan sekarang aku sudah mempunyai bayi perempuan mungil. Rumah tanggaku bahagia sekali. Ternyata dimas sosok suami yang sangat baik, perhatian, penyayang dan sangat menghormati istri. Aku beruntung sekali mempunyai suami seperti Dimas. Dimas lah jawaban yang diberikan Allah atas semua doa-doaku selama ini. Terimakasih Ya Allah atas semua yang engkau berikan kepadaku. Ternyata Allah akan selalu memberikan yang terbaik kepada hambanya yang selalu bersabar dan berdo’a.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar